Diposkan pada Fluff, Oneshoot, Romance, Sad

[Oneshoot] The Lonely Night Sky.

the-lonely-night-sky

The Lonely Night Sky.

Kim Mingyu & Chou Tzuyu / Fluff, bit-sad / PG-15

Ayame Yumi @ Poster Channel

“Ada 18 bintang. Sembilan untuk Kim Mingyu, sembilan untuk Chou Tzuyu. Pas kan?”

 

***

 

“Mau kemana?”

 

Mingyu menutup garasi kecilnya, mengangkat koper dan berjalan melewati Tzuyu yang berdiri di belakang pagar pembatas rumah mereka.

 

“Mendaki.”

 

“Dengan?”

 

“Emily.”

 

Oh, gadis mana lagi.

 

Tzuyu tidak bertanya, dan hanya menatap pemuda yang asik bersiul riang itu memasukkan kopernya. Wajarkan Mingyu mau berehat sejenak, lagipula ini hari libur, dan sampai lusa pemuda itu juga tidak punya jadwal kemana-mana meski ke kampusnya sekalipun. Dan, omong-omong soal mendaki, Tzuyu jadi ingat kejadian waktu ia dan Jackson—sepupunya, mendaki gunung di Jepang waktu masih kecil.

 

“Jangan lupa bawa kaus kaki.”

 

“Tentu. Saat malam gunung pasti akan sejuk sekali.”

 

Kembali berdiam. Tzuyu terus mengamati pemuda itu, entah Mingyu sadari atau tidak. Ah, andai saja Tzuyu dapat ikut dan menemani Mingyu mendaki gunung. Setidaknya dia tak perlu begitu was-was kalau-kalau si Emily ini bisa menggantikan posisi Christie, mantan kekasih Mingyu yang baru putus gara-gara sekolah keluar negeri.

 

Masih tergiang di otak gadis itu saat Christie, yang berambut pirang membanting pintu rumah Mingyu (dan kancing atasnya terbuka asal kalian tahu!). Lalu sesaat kemudian yang Tzuyu lihat di balik jendela kamarnya adalah Mingyu yang keluar dan pergi begitu saja dengan mobil kesayangannya. Sebenarnya itu bukan hal aneh, toh saat pacaran pasti sering terjadi pertengkaran.

 

Dan terkadang Tzuyu merasa bimbang, dia harus senang atau sedih saat mengetahui Mingyu cukup terpuruk saat putus dengan gadis itu. Well, dari cerita yang Tzuyu dengar, Mingyu tidak menyetujui keinginan Christie untuk sekolah di luar negeri. Tzuyu sih sangat paham kenapa pemuda itu menolak mentah-mentah usulan Christie. Andai kalian tahu betapa menawannya gadis itu, sangat tidak mungkin dia bisa digaet laki-laki lain ketika tidak ada Mingyu di sampingnya.

 

Hush, sebaiknya kita tidak membicarakan itu.

 

Yang pada akhirnya, sekarang Mingyu juga bertemu gadis baru, yang ternyata bernama Emily.

 

“Apa rambutnya pirang juga?”

 

Mingyu menoleh, “siapa?”

 

“Emily.”

 

“Tidak. Dia orang Kanada, tapi rambutnya coklat, dan dipotong bob. Poninya manis sekali, seperti kau.”

 

Lantas Tzuyu pun mengulas senyum ramah. Bisakah ia terangkan kepada Mingyu, kalau seumur hidupnya belum pernah ada poni yang bersarang di dahinya.

 

Tidak mau memperpanjang masalah sepele seperti itu, Tzuyu memilih menopangkan tangannya di atas pagar, memperhatikan kembali bagaimana Mingyu mengecek mesin mobil serta bannya. Mungkin Mingyu perlu mempertimbangkan usulan beberapa orang terdekatnya, kalau jurusan teknik ataupun sejenis otomotif lebih baik ditempuhnya. Tetapi, yah, pemuda itu terlalu terobsesi dengan dunia luar dan sangat antusias dengan impiannya mengambil perhubungan internasional. Cita-citanya menjadi duta besar, seperti kakeknya.

 

“Pulangnya kapan?” Sekali lagi Tzuyu bertanya.

 

“Lusa. Terus malamnya aku akan beli ayam dan kita bikin barbaque. Setuju?”

 

Mungkinkah?

 

“Setuju.”

 

Meski Tzuyu berharap Mingyu tidak akan lupa dan mengikari itu.

 

“Semuanya sudah beres. Aku pergi dulu, oke?”

 

“Oke.”

 

Mingyu kemudian masuk ke dalam mobil dan meninjak pedal gasnya. Meninggalkan Tzuyu yang masih mematung berdiri di sana, menatap mobil itu yang perlahan-lahan menjauh dari pandangannya. Tidak semelankolis biasa. Hanya saja, dia mencoba agar tidak terlalu merindukan pemuda itu untuk beberapa hari ke depan.

 

***

 

“Tzuyu, makan malam sudah siap.”

 

Gadis itu segera menyelesaikan kegiatannya menatap diri di pantulan kaca dan langsung turun ke arah ruang makan, dimana ibunya sibuk menyusun beragam makanan di atas meja.

 

Orang Korea biasanya makan nasi. Tapi hampir tiap hari rumah Tzuyu hanya diisi ubi ataupun roti gandum, maka rasanya aneh sekali saat menemukan semangkuk besar nasi di menu makanan malam ini. Ditariknya kursi dan duduk di sana. Sesekali Tzuyu melirik jam yang ada di dinding, bukan karena menunggu sang ayah yang biasa sudah ada menemani mereka.

 

Tidak tahu. Tzuyu tidak tahu kenapa dia melakukan itu.

 

“Ayah sedang mandi.”

 

“Hm.”

 

“Mau ibu ambilkan?”

 

“Tidak, aku bisa ambil sendiri.”

 

Boleh kalian katakan betapa canggungnya Tzuyu dengan si ibu. Tapi sungguh, mungkin cuma wanita itu yang paling mengerti dirinya. Maka saat tangan Tzuyu hendak mengambil nasi, wanita paruh baya itu berujar dengan nada pelan. Sepelan aliran air sungai, sehalus hembusan angin.

 

“Mingyu pergi kemana?”

 

Efeknya, Tzuyupun menghentikan gerakannya menyendok nasi, dan menatap bahu ibunya yang sedang mematikan kompor di hadapannya. “Mendaki.”

 

“Bersama temannya?”

 

Gadis itu menghela nafas, kemudian kembali menjawab sembari menyedok nasi yang terhenti, “bersama Emily.”

 

“Emily? Yang mana?”

 

“Yang dari Kanada. Rambutnya bob, dan kata Mingyu dia punya poni yang manis.”

 

“Oh.”

 

Disuapkannya nasi ke dalam mulut, menetralkan rasa asing yang jarang muncul di sana. Sebenarnya tidak buruk juga, tapi Tzuyu lebih suka roti dengan kari, omong-omong.

 

“Mereka hanya berdua?” Ibunya kembali bertanya, dan duduk di hadapan Tzuyu, ikut menyedok nasi ke piringnya.

 

“Tidak menunggu ayah?”

 

“Ayah tadi sudah makan.”

 

Memutar mata, Tzuyu baru sadar tidak ada suara air yang jatuh dari kamar mandi yang tepat berada di sampingnya.

 

“Jadi ayah kemana?”

 

“Jangan alihkan pembicaraan,” ketus wanita itu memasukkan potongan daging sapi ke suapan pertamanya.

 

“Memangnya aku mengalihkan apa?”

 

“Chou Tzuyu.” Suara yang memberat itu membuat Tzuyu merasa air putih yang ia barusan tegukpun berubah rasa.

 

Pahit.

 

“Ya, mereka cuma berdua.”

 

Ibunya menatap tak percaya. “Apa?”

 

“Tapi kurasa Mingyu memang hanya ingin menyebut Emily, kurasa mereka akan bersama rombongan, kurasa—”

 

Tzuyu menjatuhkan sendoknya ke atas nasi yang masih mengepul.

 

“Kurasa aku cemburu, bu.”

 

***

 

Malam itu, bukan hanya karena nasi saja terasa begitu sangat aneh. Bukan juga karena sang ayah yang ternyata dinas keluar kota secara tiba-tiba. Bukan hanya karena karena alasan-alasan dan perubahan yang biasanya Tzuyu tanggapi dengan tidak begitu peduli.

 

Dia menyentuh perutnya, menekannya, dan bernafas lega. Setidaknya dua suap nasi itu membuat Tzuyu bisa menahan lapar hingga mentari muncul esok hari. Ini bukan berarti masakan ibunya tidak enak, bukan, seumur hidup Tzuyu belum pernah menikmati masakan seenak masakan wanita itu. Dan Tzuyu sedikit menyesal karena tidak menghabiskannya.

 

Gadis itu berguling-guling, berputar-putar dari kanan ke kiri, mencari posisi yang tepat sesuai keinginannya. Namun hingga beberapa waktu ke depan, dia hanya akan kembali ke tempat semula, di tengah ranjang dan menatap langit-langit kamar yang temarang.

 

Bukan seperti anak-anak gadis remaja lainnya. Tzuyu lebih suka kamar yang kecil, polos namun dipenuhi beragam barang, serta penerangan yang tidak menderang. Saat ini saja dia sudah mematikan lampu dan memilih membiarkan cahaya malam merembes melalui jendela kamar yang selalu ia buka jikalau bosan mendera.

 

Biasanya, malam-malam sunyi yang mana Tzuyu sedang tidak melakukan apa-apa, terlebih hari libur besoknya. Biasanya, biasanya, biasanya, terlalu banyak biasanya, hingga ketika hal tidak biasa terjadi, Tzuyu menjadi ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang hilang, dan dia merasa khawatir akan hal itu.

 

Biasanya, selalu ada Mingyu. Mingyu yang duduk di balkon, yang membaca buku sambil mendengarkan musik dari ponselnya.

 

Pemuda itu bilang, earphone hanya untuk orang-orang pelit yang tidak mau berbagi kebahagiaan.

 

Mingyu akan senang hati memperdengarkan lagu-lagu kesukaannya kepada Tzuyu. Gadis itu berdiri di depan jendela, dan menjulurkan kepalanya, menatap Mingyu yang berdiri di balkon tepat samping kamarnya. Kadang-kadang, Mingyu tidak membaca buku, dia hanya berdiri di sana, mendengarkan musik, dan menawarkan Tzuyu dongeng-dongeng pendek yang ia ketahui dari kakeknya.

 

Pemuda itu seperti lullaby.

 

Dan, Tzuyu merindukannya.

 

“Telfon, tidak, telfon, tidak, telfon, tidak.”

 

Dia menghela nafas, “telfon, tidak, telfon, tidak.”

 

Lalu ditekannya angka satu yang langsung menuju nomor Mingyu. Maka meski sekalipun Tzuyu mencoba membohongi dirinya sendiri, berbual dan tidak menanggapi rasa aneh yang bergejolak di dadanya. Akhirnya dia hanya akan berada di satu titik, yang dimana dia sudah mengetahui tetapi mencoba mengabaikannya.

 

Perasaan rindu yang begitu membuncah.

 

“—hallo?”

 

Suara Mingyu terdengar begitu tenang. Setenang kamar Tzuyu yang tidak ditemani suara musik ponsel pemuda itu.

 

“Hallo?”

 

“Hallo, Tzuyu, ada apa? Kau baik-baik saja?”

 

Tidak. Tzuyu tidak baik-baik saja.

 

“Aku, aku baik-baik saja.”

 

“Oh ya? Sinyalnya begitu buruk, kami belum sampai ke atas, dan berkemah di sini.”

 

“Eum,” jawab gadis itu yang mendadak kehilangan jutaan kata di lidahnya.

 

“Tunggu sebentar, aku cari tempat yang sinyalnya bagus.”

 

Kemudian yang terdengar selanjutnya adalah suara derap langkah kaki Mingyu, suara gesekan sepatu dengan dedaunan serta ranting kayu. Tzuyu rasanya mau tertawa. Karena dia ingin berteriak, kalau bahkan suara derap langkahnya saja begitu ia rindukan. Begitu ingin ia dengar selama yang Tzuyu bisa.

 

Hening.

 

Mingyu mungkin sudah sampai di tempat yang tepat, dan Tzuyu bisa membayangkan pemuda itu menggerak-gerakkan ponselnya ke atas, mencari-cari sinyal di tengah ketinggian gunung yang gelap.

 

“Tzu? Kau mendengarku?”

 

“Iya, aku mendengarmu.”

 

“Sinyalnya lumayan bagus, seharusnya aku memasang tenda di sini saja. Sayang Emily terlalu suka tempat yang itu.”

 

“Kenapa?”

 

Suara nafas Mingyupun bisa terdengar begitu jelas, entah karena memang sinyal yang bagus seperti perkataan Mingyu, ataupula karena kamar Tzuyu dan tempat pemuda itu berada yang terlalu sunyi.

 

“Bintangnya terlihat jelas di sana.”

 

Sungguh, Tzuyu semakin cemburu.

 

“Aku, juga mau melihatnya,” ucap gadis itu mengalihkan tatapan dari langit-langit dan berdiri berjalan menuju jendela.

 

“Di sini, hanya bulan yang terlihat.”

 

“Di jendela kamarmu?”

 

Tzuyu mengangguk meski dia tahu Mingyu tak akan melihatnya.

 

“Apakah sangat indah sampai Emily lebih memilih di sana?”

 

“Iya, benar-benar indah.”

 

“Bisa kau ceritakan?”

 

“Tapi di sana sinyalnya buruk, Tzu.”

 

“Ah, sayang sekali.”

 

Mendadak Tzuyu merasa dirinya begitu miris saat ini.

 

“Kalau kau mau, di atasku langitnya juga tidak kalah mempesona.”

 

“Benarkah?”

 

“Eum.”

 

Hening. Gadis itu menunggu Mingyu memulai deskripsinya.

 

“Awannya begitu cerah. Bintang-bintang berhamburan layaknya pasir di pantai. Mereka bersinar dengan terang, hingga aku bisa menghitungnya dengan jelas.”

 

“Bisa hitungkan bintangnya untukku?”

 

“Ada 18.”

 

“Cepat sekali menghitungnya.” Tzuyu lantas terkekeh geli.

 

“Aku menghitungnya diam-diam, asal kau tahu.”

 

“Yah, baguslah, aku jadi tak perlu lama menunggu.”

 

Sekali lagi Tzuyu menatap langit malam di atasnya. Sebenarnya dimana bintang-bintang yang Mingyu hitung berada? Kenapa tidak ada satupun yang mampir ke jendela kamarnya?

 

“Ada 18 bintang. Sembilan untuk Kim Mingyu, sembilan untuk Chou Tzuyu. Pas kan?”

 

“Benar, cocok sekali. Tapi di sini tidak ada bintang. Hanya ada bulan, dan mereka bulat sekali.”

 

“Anggap saja itu aku.”

 

Tidak, tidak akan bisa Gyu.

 

“Kau selalu membawa ponsel dan membuka musik.”

 

“Itupun semua orang bisa.”

 

“Tapi bulan tidak bisa baca buku,” bantah Tzuyu.

 

“Mereka benda mati Tzu.”

 

Dihelanya nafas, entah keberapa kali Tzuyu telah melakukannya.

 

“Tapi bulan tidak bisa mendongeng untukku.”

 

“Tapi semua orang bisa mendongeng.”

 

“Kecuali dongeng rahasia dari kakekmu.”

 

Suara tawa pelan Mingyu mendera di ponsel Tzuyu. Kenyataannya, salah satu dari sekian hal yang paling Tzuyu rindukan adalah, cerita-cerita manis pengantar tidur yang Mingyu suguhkan.

 

Yang mungkin malam ini tidak bisa dia dapatkan.

 

“Aku kan sedang tidak ada di dekatmu, bagaimana bisa mendongeng?”

 

“Jadi kau akan mendongeng kepada Emily?”

 

“Kenapa begitu?”

 

“Karena saat ini dia sedang berkemah denganmu?”

 

Catat. Berdua.

 

“Eum, kalau Emily belum tidur.”

 

“Kalau begitu jangan.”

 

“Jangan apa?”

 

“Jangan pernah mendongeng untuknya.”

 

“Kenapa? Apa alasannya?”

 

“Aku tidak suka.”

 

Jeda sejenak. Tidak ada suara Mingyu yang membalas ucapannya barusan. Barangkali pemuda itu merasa janggal dengan perkataannya, ataupun merasa geli dengan perintahnya.

 

“Tapi Emily, kekasihku.”

 

“Tapi aku tetanggamu.”

 

“Lantas?”

 

“Aku orang yang selalu mendengarkan dongengmu, orang yang selalu menikmati musik dari ponselmu, orang yang melihatmu membaca buku dan mencuci mobil di pagi hari. Lalu sekarang kau bertanya lantas?”

 

“Tetap saja, dia kekasihku, aku punya hak untuk berbagi cerita masa kecilku kepadanya kan? Seperti aku berbagi dongeng-dongeng itu padamu.”

 

Tzuyu tidak mau membuat drama seperti kisah percintaan di telenovela. Dia tidak mau. Sangat tidak mau.

 

“Tapi, aku akan cemburu.”

 

Pemuda itu kembali tertawa.

 

“Bagiku itu hal yang spesial Gyu.”

 

“Oh ya?”

 

Tzuyu menatap langit-langit malam dengan sendu. Memperhatikan bulan yang bersinar begitu hangatnya.

 

“Bagaimana kalau aku bilang, aku rindu padamu?”

 

“Aku percaya itu.”

 

“Bagaimana kalau aku bilang, aku rindu musik dari ponselmu?”

 

“Aku percaya itu.”

 

“Bagaimana kalau aku bilang, aku rindu dongeng-dongengmu?”

 

“Aku percaya itu.”

 

Lantas Tzuyu pun tersenyum tipis.

 

“Bagaimana kalau aku bilang, aku suka padamu?”

 

Tidak ada sahutan.

 

“Tzu, aku tidak akan mendongeng untuk Emily. Tapi jangan bercanda seidiot itu, janji?”

 

Maka, malam itu, Tzuyu kembali sadar satu hal.

 

Dia tak lebih dari seorang tetangga.

 

Yang menyimpan hati untuk Kim Mingyu.

 

***

END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s