Diposkan pada Ficlet, Fluff

[Ficlet] Second Girl.

misshin017___second-girl-copy

Second Girl.

Kim Mingyu & Lee Suji / Halla / Fluff / PG-15

Poster by #ChocoYeppeo

Yeah, mungkin kau bisa bilang, ‘ini undangan dari penulis favoritmu, dan dia ingin berbincang soal masalah poligami secara pribadi.’ Bagaimana?”

 

***

 

“Aku heran.”

 

Halla berjalan membolak-balik isi rak cardigan, mencocokkannya ke badan, melihat merk dan label harga, menanyakan apakah pas dengan roknya, meletakkan kembali, lalu melakukannya hingga sepuluh toko pakaian di mall itu hampir jenuh melihat wajahnya.

 

Wanita memang selalu serumit itu dalam hal pilih-memilih, maka terkadang begitu banyak kata penyesalan bagi Mingyu karena menyetujui permintaan gadis tersebut untuk menemaninya mencari outer yang sempurna untuk acara launching buku esok hari.

 

Mungkin Halla memang bilang ‘cuma sebentar’, tapi nyatanya dia hampir habiskan jam makan siang dan melewatkan cemilan sore hari untuk membuktikan kata-kata ‘cuma sebentar’-nya itu. Lagipula, menariknya keluar dari mall juga bukan ide bagus, kecuali Mingyu berniat tidak ditegur gadis itu sama sekali.

 

“Hall, sumpah, aku heran.”

 

“Oya?”

 

Mingyu meletakkan tangannya di atas tumpukan kaus bergaris-garis yang bertulis ‘Disc 20%’ dengan spidol merah terang. Ditatapnya Halla yang masih asik mengutak-atik isi cardigan kemudian beralih ke teritori jaket kulit. Yang bisa jadi akan memperpanjang waktu, mengingat bukan cuma kecocokan serta merk dan harga yang Halla pentingkan. Tetapi juga bahan, kualitas, dan trend yang akan jadi topik pembahasan.

 

Well, mau bagaimana lagi. Resiko belanja dengan wanita memang begini.

 

“Memangnya tidak ada yang kau suka?” Tanya Mingyu setengah penasaran.

 

Halla lantas mengangguk, “aku suka semuanya.”

 

“Kenapa tidak dibeli kalau begitu?”

 

“Memang kau mau bayar sebanyak itu?”

 

Benar juga, omong-omong. Mingyu tidak bawa dompet, dan dia bahkan pakai uang Halla untuk bayar bensin mereka ketika ke sini. Jadi mungkin, secara tidak langsung gadis itu baru saja memberinya kode agar lebih bersabar dan lebih diam, karena bahkan bensinnya saja bergantung pada seorang wanita, ya kan?

 

“Aku mau terlihat sangat cantik besok,” ujar Halla sembari membawa dua buah jaket kulit berwarna cokelat susu dan biru muda.

 

“Untuk?”

 

“Tidak terlihat memalukan di depan pacarmu,” jawabnya kemudian memberikan Mingyu pertanyaan secara lisan, antara si cokelat susu atau biru muda. Walau bagi Mingyu semuanya selalu terlihat bagus jika dipakai oleh Halla.

 

“Kau sudah berikan undangannya kan?”

 

Mingyu mengangguk lemah, “sudah.” Lalu ditariknya yang warna biru dan menyerahkan kepada pelayan wanita yang sejak tadi menemani Halla.

 

So, bagaimana reaksinya?”

 

“Senang.”

 

Tertawa pelan, Halla menatap Mingyu tidak percaya. Dia menyedekapkan tangan di dada, seolah-olah sedang memberikan sedikit tekanan kepada pemuda itu. Well, Mingyu merasa akan ada sesi interogasi setelah ini.

 

“Memangnya kau mau apa?” Mingyu mencoba menstandarkan intonasi suaranya. Tidak ingin membuat mereka menjadi pusat perhatian ataupun membuat Halla menjadi tersinggung atas perkataannya.

 

Yeah, mungkin kau bisa bilang, ‘ini undangan dari penulis favoritmu, dan dia ingin berbincang soal masalah poligami secara pribadi.’ Bagaimana?”

 

Lantas Mingyu mendengus sambil menyentilkan jemarinya ke dahi gadis itu.

 

“Mimpi.”

 

***

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s