Diposkan pada Fluff, Oneshoot

[Oneshoot] Privacy.

1623

Privacy.

Kim Mingyu & Lee Hyunjoo / Fluff, absurd, tidak pantas / PG-15

cr : liarground @posterchannel

Ck, ck, tisu jaman sekarang memang berlebihan.

 

***

 

Siang itu…

 

sangat panas.

 

Iya, sumpah, sangat panas.

 

Mingyu berjalan keluar dari rumahnya, niatnya tadi membawa payung, tapi kecuali dia masih mau dianggap orang waras di komplek ini, maka diurungkannya untuk membawa benda itu dan memilih memakai kaus sesiku serta celana pendek menuju supermarket yang berjarak tidak lebih dari 20 kaki dari pagar rumahnya. Ingat, pagar rumah, dan kalian harus menebak-nebak sebesar apa halaman rumah Mingyu dengan ratusan macam jenis tanaman hias sampai obat-obatan.

 

Untung-untung hari ini dia tidak ada kegiatan yang menguras tenaga, mau di sekolah ataupun di rumah. Maka dengan senang hati lebih baik pergi saja ketimbang mendengarkan cerita ibunya soal anak-gadis-jaman-sekarang, yang katanya hobi bawa laki-laki masuk rumah saat tidak ada orangtua di sana. Well, kalaupun bisa Mingyu juga ingin menambahkan, anak-laki-laki-kesayangannya, juga tak kalah berbeda. Namun sayang, ibunya selalu berada di rumah kapanpun juga, dan Mingyu harus mengubur hasratnya soal membawa anak gadis ke rumah, dan bisa jadi ke lantai dua menuju kamarnya.

 

Oke, stop! Berhenti di situ.

 

Mingyu memilih-milih rasa ice cream dan mengambil yang rasanya matcha, euh, yah, pertama karena harganya pas di kantong, dan modelnya berambut pendek cokelat (kau lihat di televisi, kan?). Omong-omong Mingyu bukan penggemar Selena Gomez, maka dia tidak menaruh hati meski sang penjual sudah bilang berkali-kali, “yang mix cokelat-vanilla juga luar biasa.”

 

Lantas setelah membayarnya, Mingyu tidak langsung pulang ke rumah dan malah duduk di depan supermarket. Bukan karena tidak ingin berbagi dengan ibunya, dia cuma sedang ingin menikmati suasana siang hari yang menyengat dan panas yang mendera kulitnya, serta ice creamnya. Ugh, benda itu mencair dengan begitu cepat.

 

“Kak Mingyu?”

 

Oh, Mingyu kenal suara ini.

 

“Hai, Hyunjoo,” sapanya sambil tersenyum manis seperti biasa. Tolong digarisbawahi, seperti biasa bukan berarti Mingyu selalu mengubar senyum kepada gadis manapun ya.

 

Hyunjoo menyandarkan sepedanya ke dinding supermarket dan ikut duduk di samping Mingyu. Masih berpakaian seragam sekolah, Mingyu jadi ingat tentang obrolan singkat saat arisan beberapa hari lalu di rumahnya kalau Hyunjoo sedang belajar dengan giat untuk ujian masuk sekolah menengah ke atas bulan ini. Yah, baguslah, percuma saja kalau cantik tapi tidak pintar.

 

Ya, cantik.

 

Hyunjoo itu cantik.

 

Shit!

 

Mingyu menjilat bibirnya berkali-kali. Mendadak saja manis matcha itu berubah menjadi perpaduan asam dan kecut di lidahnya. Kalau saja benda ini ia beli bukan dari uangnya sendiri, Mingyu pastikan ice cream tersebut sudah jadi salah satu dari penghuni tempat sampah di sampingnya. Wajar, Mingyu selalu masuk dalam list anak-laki-laki-yang-memikirkan-masa-depan, dan dia sudah terbiasa berhemat dari waktu ke waktu. Jadi, membuang uang bukan bagian dari tipikal-tipikalnya.

 

“Kak Mingyu tidak ada kegiatan ya?”

 

“Tidak, memangnya kenapa?”

 

Hyunjoo menggeleng, “hanya tanya.”

 

Setelah ber-oh-ria, tiba-tiba Mingyu menoleh membiarkan dirinya menatap gadis itu lebih dalam dan dekat. Cahaya matahari, bisa tidak kau kondisikan dirimu sebentar, Hyunjoo terlalu bersinar saat ini.

 

Ingat Gyu, kau masih dalam keadaan rawan terjangkit pedofilia loh.

 

“Tadi belajar apa?”

 

“Banyak, matematika, biologi, dan bahasa. Kenapa?”

 

Dengan gaya angkuh nan percaya diri, Mingyu menepuk bahunya pelan, “aku jago matematika dan biologi, mau belajar bersama?”

 

“Serius? Tidak merepotkan Kak Mingyu?”

 

“Memangnya kau pernah merepotkanku sebelumnya?”

 

“T-tapi…”

 

“Aku tidak masalah kok direpotkan olehmu.”

 

***

 

Tidak ada lagi panas matahari.

 

Tidak ada lagi ice cream matcha.

 

Tidak ada lagi Hyunjoo dengan seragam sekolahnya.

 

Oke, tenang, jangan gunakan otak kalian untuk berpikir yang negatif terlebih dahulu. Cukup di sana dan sangat disarankan jangan menjalar kemana-mana.

 

Mingyu tidak tahu sebegitu sibuknya kah dia hingga tidak pernah memperhatikan perkembangan Lee Hyunjoo? Yang bahkan kini, berbalut kaus dan celana pendek, duduk di depannya, bersama rambut yang dikucir kuda, serta kacamata yang membingkai wajahnya. Kalaupun bisa meja ini Mingyu harap bisa ia singkirkan sejauh mungkin, hanya menghalangi dan membuat batasan-batasan yang memuakkan saja.

 

“Kalau yang ini bagaimana caranya Kak?”

 

Mingyu menggeleng-gelengkan kepalanya, menuntaskan beragam fantasi yang berkeliaran di sana-sini. Ditariknya buku tugas Hyunjoo kemudian meneliti angka-angka yang berderet di sana.

 

“Kau belum belajar yang ini? Biasanya kelas dua sudah ada, namanya fungsi. Ini mudah kok, kau cuma perlu—”

 

“Wah, ada Mingyu ya.”

 

Menoleh, Mingyu menemukan atensi seorang wanita paruh baya dengan rambut digulung serta beberapa kantung di tangannya. Hendak pemuda itu berdiri untuk membantu sebelum wanita tersebut mempelototinya, seolah berkata ‘kau duduk saja.’

 

“Bibi buatkan minuman ya.”

 

Mingyu hanya mengangguk mengiyakan tawaran itu. Toh nyatanya siang pekat ini tanpa minuman bisa membuat orang dehidrasi dalam kurun waktu tak lama. Maka setelah memastikan ibu dari Hyunjoo berlalu masuk ke dalam dapur, pemuda itu melanjutkan sesi mengajarnya.

 

“Sampai dimana tadi?”

 

“Eum, yang ini,” jawab Hyunjoo sambil menunjuk bagian buku dengan pulpen.

 

“Oke. Di sini kan sudah ada rumusnya, nah kau ganti huruf x dengan angka yang ada di soalnya. Yang ada di kolom ini,” terang Mingyu perlahan-lahan.

 

“Oh, jadi kalau di sini nilainya empat, aku ganti huruf x ini dengan angka empat, begitu?”

 

“Yaps.”

 

Hyunjoo berdecak, “sungguh gampang ternyata.”

 

“Dan kau tidak tahu ternyata.”

 

Candaan renyah memang, tapi setidaknya Hyunjoo sedikit tertawa dan Mingyu rasa itu permulaan yang baik atau mereka hanya akan didera kecanggungan saja. Sambil menunggu Hyunjoo mengerjakan tugas-tugasnya, Mingyu mengetuk-ngetukkan jemari ke atas meja, membuang bosan, dan menghilangkan rasa hausnya terlebih ibu Hyunjoo belum muncul sejak menjanjikan membawa minuman.

 

“Hyun, toilet dimana ya?”

 

“Eum, masuk saja ke dapur, ada di sebelah kiri.”

 

Lalu Mingyu pun berdiri dan berjalan seolah-olah ini memang rumahnya. Yeah, dulu dia bahkan bisa mengumandangkan kalau detail semua rumah ini sudah ia hafal luar kepala. Tapi yah, itu dulu, sebelum dia beranjak remaja dan mulai melupakan soal mandi bersama ataupun tidur siang di balkon atas bersama Hyunjoo, adiknya yang baru-baru ini membuat Mingyu pusing tujuh keliling.

 

Masuk ke dalam kamar mandi dan menyelesaikan ‘tugasnya’, Mingyu bukannya langsung keluar apalagi setelah suara serak ibu Hyunjoo memanggilnya, mengatakan kalau sudah ada jus alpukat serta cookies hangat yang tersedia untuknya. Kamar mandi itu tidak berubah, dan Mingyu masih bisa menemukan stiker animasi yang dulunya ia serta Hyunjoo kumpulkan bersama. Gambar-gambar itu berterbangan di kaca westafel, dan Mingyu tak mampu untuk tidak mengulas senyum saat setelah mencuci tangan dan menemukan tisu berbentuk persegi bersusun di sana.

 

Diambilnya satu, dan Mingyu hampir terperangah.

 

Ck, ck, tisu jaman sekarang memang berlebihan.

 

Mingyu lantas keluar dan kembali duduk ke tempatnya tadi, yang kini sudah ada jus alpukat serta sekaleng cookies yang masih berwarna kecoklatan. Diraupnya satu dan Hyunjoo hanya terkekeh geli.

 

Cookies jaman sekarang tidak begitu enak lagi, aku lebih suka yang buatan nenek komplek sebelah.”

 

Mingyu kemudian mengangguk antusias, “kau masih sering pesan di sana?”

 

“Setiap saat.”

 

Well, jaman sekarang semuanya memang berubah ya.”

 

“Iya.”

 

“Tisu saja harus dilipat-lipat dan berbungkus plastik, malah.”

 

Hening.

 

Mingyu masih mengunyah cookiesnya sebelum menyadari satu hal bodoh yang baru saja terjadi.

 

Dilemparkannya tatapan tak percaya kepada Hyunjoo yang juga menatapnya takjub. Oke, tolong, diulangi, takjub!

 

“Kak Mingyu mengelap tangan pakai itu?!”

 

“Mana kutahu! Kukira tisu!”

 

Dan tawa terbahak Hyunjoolah yang mengikis keheningan tadi. Gadis itu memegangi perutnya, menyipitkan matanya, dan mengeluarkan suara tawa yang entah kenapa bagi Mingyu terdengar seperti remah-remah cookies yang ia makan barusan.

 

Ugh, sumpah, dia malu!

 

“Ya ampun, Kak Mingyu, kau lucu sekali tahu! Bagaimana bisa mengira itu tisu!”

 

Mingyu mengusap wajahnya frustasi, “fak.”

 

“Hei, hei, jaga mulutmu,” ujar Hyunjoo lalu memukulkan penggaris ke bahu Mingyu. Tidak sakit sih, tetapi terasa merendahkan.

 

Baru hendak mengeluarkan pembelaan lagi, tiba-tiba derap langkah kaki menuruni tangga membuat pemuda itu menjadi mati kutu. Well, ini memang terdengar biasa, tapi kalian tak akan pernah tahu bagaimana rasanya ada di posisi Mingyu. Selain malu, perasaan jijik mendera di sekujur badannya.

 

“Bu! Kak Mingyu mengelap tangan pakai pembalut loh, hebat kan?”

 

Sekali lagi.

 

Fak.

 

***

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s