Diposkan pada Ficlet, Fluff, Marriage life

[Ficlet] Double C.

misshin017-double-c

Double ‘C’.

Kim Mingyu & Song Minjae / Fluff, marriage-life / PG-15

cr. blackngel@PosterChannel

Tidak ada satupun wanita di dunia ini yang mampu memberikan rasa lebih tinggi derajatnya, kecuali Minjae.

 

***

 

Hubungan mereka, barangkali belum terbiasa.

 

Antara Mingyu maupun Minjae, tidak ada yang berani mencoba sesuatu yang dapat memangkas rasa gerogi yang kentara. Hanya sekedar menemukan wajah bangun tidur saat kedua pintu kamar terbuka adalah satu dari sekian hal yang menjadi kegiatan paling mereka jauhi. Seolah-olah memberikan sengatan anti-penambah-rasa-kejauhan untuk keduanya.

 

Terutama saat hanya ada mereka berdua, dengan jarak lima meter antara kebun belakang yang merangkap menjadi taman bersungai minimalis dengan dapur yang bau kopi pagi hari sedang mengepul. Jangan pertanyakan kenapa Mingyu tidak bisa fokus menakar gula ke dalam gelasnya, tentu selain fakta dia bukan barista, Minjae yang masih berdiri menyiram bunga-bunga merupakan kesalahan fatal kalau-kalau dia mengakui perutnya tidak dalam keadaan lapar lagi.

 

Well, semalam dia menghabiskan seluruh jamuan makan di salah satu restoran kerabat dan pulangnya menemukan lampu kamar Minjae masih menyala membuat tanda tanya besar di kepala. Mingyu tidak ingin berekspektasi tentang ‘apakah gadis itu menunggunya?’ Atau berupa pernyataan ‘yang barangkali dia insomnia’. Tentu saja pemuda itu juga ingin melangkah ke sana, mengetuk pintu, dan berbicara jika mereka bisa duduk sebentar untuk membantu menumbuhkan rasa ngantuk.

 

Tapi sayang, Mingyu lebih memilih mandi dan mendekam di dalam selimutnya. Benar-benar ironis.

 

“Apa kau lihat-lihat?” Suara Minjae menghancurkan konsentrasinya.

 

Mingyu menggeleng, mengontrol perasaan kaget ketika mengetahui Minjae pasti juga punya kosmetik untuk bangun tidur yang memastikan bagaimana wajahnya terlihat nampak seperti porselen dengan satuan keputihan yang makin bercahaya berpadu dengan postur mukanya. Tidak bisa dibilang Minjae ‘lumayan’, padahal Mingyu langsung mengiyakan perjodohan anarkis mereka.

 

“Hanya membuat kopi.”

 

Raut wajah Minjae semakin tidak kentara. Dia berbalik dan kembali melanjutkan kegiatan pagi minggunya. Yang mungkin saja tidak biasanya Mingyu temukan mengingat betapa siang pemuda itu bangun di hari libur.

 

Namun bisa saja karena kebiasaan yang tidak biasa, kaki-kaki itu tergerak melewati bongkahan tangga, meletakkannya di atas tumpukan bebatuan, yang bagi Mingyu layaknya terapi untuk orang-orang penyakitan. Dia berjalan mendekati Minjae, menikmati bahu gadis itu dari belakang. Menyadari sesaat, tak pernah ditemukannya Minjae yang memakai daster bermotif kupu-kupu dengan bahan dasar berwarna orange kecoklatan. Topi yang terpasang di kepalanya, dan pentofel hitam yang tertempel di telapak kakinya.

 

Sungguh, Mingyu sebenarnya juga sering memperhatikan Minjae, walau dapat dihitung jari. Yah, mudah-mudahan rasa peduli tidak melebihi rasa gengsi.

 

“Jaga jarak,” titah Minjae membuat Mingyu langsung menghentikan langkah terakhir sebelum dia benar-benar berdiri di belakang gadis itu.

 

Minjae berbalik dan melemparkan tatapan tak sukanya seperti biasa, yang sudah menjadi santapan setiap waktu bagi Mingyu. Mungkin inilah penyebab yang mana membuat Mingyu sudahlah dalam fase-fase berani, contohnya sudah melewati jarak-jarak dalam aturan di rumah pribadi yang telah dikukuhkan oleh Minjae. Kecuali di saat tertentu, di saat mereka bersandiwara soal menyenangkannya menjadi pengantin muda.

 

“Sana pergi, jangan ganggu aku.”

 

Mingyu menautkan alisnya.

 

“Apa aku terlihat menganggumu?”

 

Pertanyaan yang terlalu sensitif memang, dan entah kenapa terlontar begitu saja. Memang sejak kapan Mingyu baru paham kata-kata ‘menganggu’ dari Minjae untuknya.

 

“Kapanpun,” jawab gadis itu membuat Mingyu menahan nafas sejenak.

 

Well, awalnya aku ke sini cuma untuk membantumu, dan tadi aku sedang memasak air,” ujar Mingyu membuang muka dan memilih menatap bunga tulip yang baru saja disirami Minjae. Efek bunga yang begitu indah, atau Minjae sendirilah yang berdiri di depannyan, Mingyu mendadak jadi tak karuan.

 

“Lantas?” Tantang Minjae kepadanya.

 

Pemuda itu menghela nafas dan akhirnya memantapkan hati untuk menikmati bagaimana cara gadis itu menatapnya penuh membara. Tidak ada satupun wanita di dunia ini yang mampu memberikan rasa lebih tinggi derajatnya, kecuali Minjae.

 

Dan, Mingyu senang akan hal itu.

 

“Kurasa kau salah paham dan terlalu percaya diri, mengingat kebun ini milik siapa dan aku bebas berkeliaran di rumahku sendiri.”

 

Sejenak dia mendalami bagaimana air muka Minjae yang perlahan-lahan berubah, layaknya mengalami suatu kondisi yang mengakibatkan rasa shock yang mendadak. Kalaupun benar, Mingyu harap itu karena dirinya—

 

“Kerjakan ini!”

 

Diberikannya selang air kepada Mingyu, kemudian gadis itu malah berjalan melewatinya dengan terburu-buru, hingga pemuda itu yakin tidak ada satupun kata yang dapat menjelaskan siapa itu Minjae walau dia sendiri mendapat predikat ‘menganggu’ untuk beberapa waktu lalu.

 

Mingyu menoleh ke belakang, ke arah dapur, dan tidak tahan untuk tertawa saat Minjae mempelototinya.

 

“Kau mau masak air atau mau masak rumahmu, hah?!”

 

Kopinya gagal.

 

Serta pula untuk kopi Minjae.

 

***

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s