Diposkan pada Ficlet, Fluff

[Ficlet] 21.

21-bbon-cafeposter

21.

Kim Jiho & Kim Mingyu / Fluff / PG-15

(c) Bbon @ CafePoster

Sejujurnya bukan lumayan, tapi yah, kau tahu lah. Bagi Mingyu, hal-hal seperti itu terkesan sangat berlebihan dan norak.

***

 

“Jiho, mau dibantu?”

 

Gadis bersurai hitam itu menoleh sekilas dan mengangguk mengiyakan tawaran Mingyu. Toh, membersihkan meja dengan tangan kanan yang terluka bukanlah sebuah ide yang baik. Keburu ada yang membantu, ya tidak boleh disia-siakan.

 

“Apa kata dokter kemarin?”

 

“Seminggu lagi.”

 

Mingyu terdiam dan mencuri pandang ke arah tangan Jiho yang berbalut perban. Kemarin malam, entah bagaimana ceritanya tiba-tiba gadis ini jatuh dari tangga dan meremukkan pergelangan tangannya sendiri.

 

Kadang Mingyu berfikir, sebenarnya bagaimana pose Jiho saat jatuh dari balok tangga? Memangnya dia sedang beragaya untuk pemotretan Victoria Secret?

 

Laki-laki menggeleng sambil mengulum senyumnya. Uh, ada-ada saja.

 

“Pasangan tadi romantis ya,” Jiho kembali membuka suara.

 

“Yang mana?”

 

“Yang tadi makan di meja ini.”

 

Sejanak Mingyu seolah memutar waktu dan mengulang fase yang membuat kafe tempatnya bekerja menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu-lalang.

 

Engga masalah sih, malah menaikkan pengunjung mereka yang hanya bahkan datang untuk menonton dan membeli segelas air mineral.

 

“Katanya meraka dulu hanya teman biasa. Terus, rupanya gadis itu mau sekolah ke luar negeri dan rupanya lagi si laki-laki memendam perasaan kepadanya.”

 

“Lalu melamarnya di sini?” potong Mingyu dibalas anggukan semangat Jiho.

 

“Manis sekali.”

 

Eum, lumayan.”

 

Jiho mendengus dan Mingyu mendengarnya.

 

Sejujurnya bukan lumayan, tapi yah, kau tahu lah. Bagi Mingyu, hal-hal seperti itu terkesan sangat berlebihan dan norak.

 

Ini bukan berarti dia tipe laki-laki yang tidak pandai memanjakan wanita atau bersikap layaknya pangeran ke tuan putri. Hanya saja, dia tidak bisa berbuat sesuatu yang terlalu ‘romantis’ seperti ini.

 

Singkatnya, Mingyu kaku.

 

“Dulu, waktu aku pertama bekerja, ada juga loh yang dilamar di sini dan di meja ini juga. Padahal kalau dilihat-lihat gadisnya cupu sekali. Benar-benar berbalik dengan laki-laki yang membawa buket bunga.”

 

“Cintakan engga memandang fisik,” jelas Mingyu meralat perkataan Jiho.

 

“Tapi, laki-laki kan makhluk visual. Biasanya sih fisik nomor satu.”

 

“Oh ya?”

 

“Iya.”

 

Mingyu akui itu benar. Serius kok, hal yang pertama yang membuat orang jatuh cinta biasanya itu tampangnya. Kedua, wataknya. Ketiga, otaknya. Keempat, uangnya.

 

Kejam, tapi faktanya memanglah seperti itu. Engga perlu sok menutupi dan sok munafik.

 

“Tahun lalu juga. Tapi kisahnya berbeda. Dari yang kudengar, mereka sudah bercerai dan laki-laki itu meminta balikan lagi karena merasa ada yang hilang dari hidupnya. Sejenis, jiwanya.”

 

“Konfliknya beda ya.”

 

“Lebih kompleks.”

 

Jiho mengelap meja dengan tangan kirinya dan memandang pantulan wajah Mingyu yang sibuk membersihkan peralatan makan yang berserakan.

 

Kalau dilihat-lihat.

 

Mingyu tampan juga.

 

“Gyu?”

 

“Ya?”

 

Butuh beberapa detik Jiho merangkai kata-kata sambil menatap serius Mingyu yang masih melakukan kegiatannya. Bukan nervous, cuma butuh persiapan mengatakannya.

 

Siapa tahu nanti malah diketawain.

 

“Kamu berfikir engga sih. Meja nomor 21 ini kok selalu menyatukan perasaan orang-orang yang mencintai ya?”

 

Jiho kira akan ada tawa renyah Mingyu yang menanggapi kata-kata idiotnya.

 

Jiho kira Mingyu akan tersenyum geli sambil memegangi perutnya.

 

Atau juga, Jiho kira Mingyu mungkin mengejek cara kerja otaknya yang sangat tidak rasional dan terlalu ‘keperempuanan’. Meski siapapun tahu status gender Jiho sendiri adalah perempuan.

 

Namun yang diterima Jiho justru berlainan.

 

Tidak ada tawa, senyum keki, ataupun ejekan Mingyu yang didapatnya.

 

Laki-laki itu memasang tampang datar dan seolah semuanya biasa-biasa saja.

 

“Kalau begitu, lain kali kita yang makan di sini, berdua, bagaimana?”

 

***

END

Iklan

Satu tanggapan untuk “[Ficlet] 21.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s