Diposkan pada Ficlet, Fluff, Teen

[Ficlet] Like a Petrichor.

like-a-petrichor

Like a Petrichor.

Kim Mingyu & Ryu Sujeong / Fluff / Teen

Aikwan_Daegi @ Story Poster Zone

Baru-baru ini kau.

***

 

“Gyu, geser dikit donk.

 

Mingyu—laki-laki itu mendelik kemudian menggeser badannya merapat ke jendela. Seharusnya dia tidak ikut acara study tour kali ini. Sudah lupa membawa selimut, ketinggalan botol minum, ponselnya jatuh ke bak mandi, dan sekarang

 

harus duduk di sebelah Sujeong.

 

Bukannya benci atau tidak suka. Gadis itu baik kok, malah kelewat baik. Gelar bendahara kelas yang dipegangnya bahkan tidak membuat Mingyu ragu meminjam uang dalam jumlah banyak hingga terpaksa dialah yang harus menggantinya.

 

Eits, bukan berarti Mingyu anak tidak baik. Hanya sekedar membuktikan perkataan teman-temannya, soal si ‘mulia’ Ryu Sujeong, dan jawabannya adalah

 

benar.

 

“Gyu, mau oreo?” Sujeong menyodorkan bungkusan oreo rasa blueberry kepadanya.

 

“Tidak, terimakasih.”

 

Sujeong tertawa geli dan Mingyu dapat mendengar dengan baik bisikannya.

 

“Lagi diet ya.”

 

Omong-omong, ketimbang menanggapi ucapan Sujeong, Mingyu lebih memilih mengalihkan tatapannya ke luar jendela bus.

 

Pepohonan yang lewat seolah menyapanya sambil bergoyang-goyang dibawa arus angin. Ide ‘jalan-jalan’ ke pegunungan dan berkemah di sana sebenarnya bukan hal yang buruk. Hanya saja, cuaca sedang tidak mendukung.

 

Entah bagaimana, dua hari berturut-turut hujan turun seperti ditumpahkan seenak hati.

 

Mingyu merapatkan mantelnya ketika suhu yang menusuk menyentuh pori-pori kulitnya. Anehnya, Mingyu itu tidak suka hujan apalagi musim hujan.

 

Tapi kok,

 

“Kau suka bau tanah sehabis hujan ya?”

 

Sekali lagi Sujeong mencoba membuka percakapan di antara mereka. Meski tanpa oreo atau cemilan-cemilan lainnya yang ia bawa.

 

Mungkin takut ditolak lagi.

 

“Lumayan,” jawabnya lalu kemudian kembali ke posisi menatap luar jendela.

 

Kesannya memang sombong dan angkuh, namun jujur, Mingyu bukan tipe orang yang mudah berbicara dengan orang lain.

 

Apalagi kepada Sujeong.

 

“Tahu gak, kata nenekku sehabis hujan akan ada peri-peri yang beterbangan mengelilingi hutan. Dan, aroma tanah ini berasal dari serbuk bunga yang menempel di sayap mereka saat terbang.”

 

Mingyu mengulum senyumnya.

 

Sujeong kira saat ini dia sedang berhadapan dengan anak kepang dua yang berusia lima tahun ya? Ini Mingyu dan dia tak percaya hal sekonyol itu.

 

Lagipula, memangnya peri-peri bunga seperti itu ada?

 

Uh, Sujeong terlalu termakan dongeng neneknya sih.

 

“Dalam film?” sarkas Mingyu dengan nada tak percaya.

 

Gadis berambut cokelat itu menggeleng kemudian menelan oreo yang sedari tadi ia kunyah.

 

“Dalam cerita nenekku.”

 

Mingyu memiringkan kepalanya, menatap Sujeong yang berkata seolah hal tadi merupakan jawaban yang lazim untuk pertanyaannya.

 

“Eum, nenekmu pintar.”

 

“Yap. Roti buatannya juga enak.”

 

“Roti apa?”

 

“Yang dalamnya ada cokelat.”

 

Oh, roti itu. Ibu Mingyu juga biasa membelinya, di toko roti ataupun kedai milik pamannya.

 

“Nenekmu tinggal dimana?” tanya Mingyu kembali. Ah, mengobrol dengan Sujeong rupanya tidak seburuk yang ia kira.

 

“Di Skotlandia.”

 

“Jauh juga.”

 

“Dia punya kebun jeruk di sana, ada dua perempuan yang membantunya.”

 

“Siapa?”

 

“Brenda dan Wissy—“

 

“mereka tidak pernah menikah.” keluh Sujeong mendekatkan bibirnya ke telinga Mingyu kemudian tertawa.

 

“Apa yang nenekmu lakukan dengan jeruk itu?”

 

“Pie, dan selai.”

 

Mingyu mengangguk mengerti.

 

Ternyata, selain aroma tanah sehabis hujan, nenek Sujeong juga kelihatan sebagai sesuatu yang menarik untuk dijadikan bahan pembicaraan.

 

Mendadak Mingyu mengambil kepingan oreo yang tersisa di dalam bungkusan milik Sujeong, membuat gadis itu menatapnya tak tega.

 

Seharusnya, itu miliknya. Tapi sudah diambil Mingyu.

 

“Dongeng peri bunga, roti isi cokelat, pie dan selai jeruk, lalu Brenda dan Wissy, apalagi yang kau sukai?”

 

“Brenda dan Wissy tidak masuk list, mereka perawan tua.”

 

“Oh, jadi kau tak suka?”

 

“Tidak,” Sujeong menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri.

 

“Kau, apa yang kau suka?” tanyanya balik kepada Mingyu.

 

Untuk seperkian detik hening yang mendera mereka. Seharusnya laki-laki itu menjawab dengan mudah, tapi rasanya ada yang kurang.

 

“Aroma tanah setelah hujan, video game, basket, genk, dan—“

 

Mingyu melirik Sujeong dari sudut matanya.

 

“Baru-baru ini kau.”

 

***

END

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s